Skip to main content

Featured Post

Mengurus Legalisasi Buku Nikah, Akta Kelahiran dan KK di Tiga Kementerian

Assalamualaykum Intro Setelah melakukan studi selama kurang dari setahun di Kota Bandung, tiba waktunya untuk melakukan langkah berikutnya, yaitu melakukan penelitian ke luar negeri. Berdasarkan hasil minat, kebutuhan riset dan kuota, alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan riset ke negara Jerman.  Persiapan mulai saya lakukan ketika libur semester genap dimulai, seperti belajar bahasa Jerman, menyiapkan materi riset dan tentunya visa. Dari informasi yang saya dapat dari senior, jika kita ingin membawa keluarga, visa ke Jerman lebih rumit daripada negara lain di Eropa, sehingga sebisa mungkin saya sudah siapkan jauh-jauh hari agar jadwal pelaksanaan riset tidak terganggu. Beberapa hal yang perlu dilakukan dan bisa dicicil tanpa menunggu undangan dari kampus di luar negeri sana adalah melakukan legalisasi dokumen kependudukan dan pernikahan. Kedua jenis dokumen tersebut disertakan sebagai salah satu syarat visa terutama visa kumpul keluarga. ...

Sebelum Protes Banjir, Pastikan Anda Bukan Pembuang Sampah Sembarangan

Assalamualaykum 


Ada sebuah pendapat yang pernah saya baca dulu di media sosial mengenai sampah, tetapi saya tidak ingat di kiriman siapa, yaitu "Kita jangan mengajari anak kita dengan menyebut tukang yang mengambil sampah di lingkungan kita dengan panggilan tukang sampah. Ajari mereka dengan sebutan petugas kebersihan, karena tukang sampah bisa jadi adalah kita sendiri, orang-orang yang hingga detik ini masih kesulitan tidak membuang sampah sembarangan". Saya setuju dengan pendapat tersebut.
Membiasakan tidak membuang sampah sembarangan adalah hal yang mungkin tidak populer dan tidak membuat citra kita akan bertambah baik. Tapi kita tahu, negara-negara modern yang selalu kita banggakan memiliki cerminan kebiasaan umum yang baik tetapi susah kita tiru, seperti antre, tepat waktu serta tidak membuang sampah sembarangan. Ada atau tidak ada aturan tertulis mereka melakukannya secara "otomatis". Kembali ke pernyataan awal, mengapa hal tersebut tidak populer, karena ketika kita melakukan itu, terasa tidak "keren" di lingkungan kita.
Saya pribadi memiliki pengalaman dalam membiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, dengan kurun waktu yang lama. Kira-kira sejak dapat kuliah separuh jalan, saya sudah terbiasa tidak membuang sampah sembarangan, walaupun itu hanya sobekan bungkus permen. Saya mengiringinya dengan membiasakan menyimpan sampah-sampah saya di kantong yang ada di baju, tas, atau di kendaraan pribadi, sebelum membuangnya ke tempat sampah. Sekarang saya menularkan kebiasaan saya ke keluarga kecil saya.
Bagi saya itu masih kurang. Saya masih belum bisa mengurangi volume sampah harian saya. Saya masih belum memisahkan jenis sampah yang saya hasilkan tiap harinya (ironisnya begitu sampai truk sampah, masih dicampurkan lagi). Ini akan menjadi program jangka panjang yang akan terus saya lakukan. Oleh karena itu saya mengapresiasi kawan-kawan di sana yang sudah sering memisahkan sampah, membawa kantong sendiri kalau belanja, atau rantang makanan, untuk mengurangi konsumsi plastik, serta tindakan tepat guna lainnya yang membantu pengelolaan sampah di negeri kita tercinta ini.
Terkait dengan ilustrasi di atas, saya ingin menegaskan bahwa, semakin banyak harta yang kita miliki tidak menjamin bahwa kita memiliki adab yang baik terhadap lingkungan. Anda pasti sering menemukan pengendara mobil mewah membuang sampah sembarangan atau bahkan orang berpangkat atau memiliki jabatan masih hobi membuang sampah sembarangan.
Mari kita sama-sama berubah. 

Tak perlu menuntut orang lain untuk berubah sebelum kita sendiri berubah.

Waalaykumsalam

Popular Posts